Khamis, 23 Julai 2015

MANAQIB RINGKAS 'GURU TUA' AL HABIB IDRUS BIN SALIM AL-JUFRI





MANAQIB RINGKAS 'GURU TUA' AL HABIB IDRUS BIN SALIM AL-JUFRI (LEMBAGA AL-KHAIRAT)
بِكُم يَا حَبِيْبَ الله أرَجُو شَفَاعَةً
Denganmu wahai kekasih Allah aku mengharap syafaat
وَالمرتَضَى والسَّيدَيْنِ وبِالحَسَنَا
Dan dengan al-Murtadha, Hasan, Husain dan keduanya
سَفِينَةُ نُوحٍ قَدْ نجَا مَن بهَا النَّجَا
Bahtera Nuh maka selamat siapa yang di dalamnya
هُمُو وَلَعُمرِي أدْرَكَ الفَوزَ والأمْنَا
Demi hidupku, mereka telah mendapat kemenangan dan keamanan
تَمَسَّك بحِزْبِ الفَطِمِيِّينَ تَهتَدِي
Berpegang teguhlah dengan kelompok Fatimah pasti mendapat petunjuk
فَمَنْ لَمْ يَكُن مِن حِزبِهِم يَقْرَعُ السَّنَا
Siapa yang bukan dari kelompoknya sungguh telah melepas ridanya
وَلا بَأسَ في الدُّنْيَا عَلى مِن يُحِبُّهُمْ
Tiada khawatir di dunia siapa yang mencintai mereka
وَلا خَوْفٌ في لأُخْرَى يَرَاهُ وَلا حُزْنَا
Tiada ketakutan melihatnya di akhirat tidak pula bersedih
(Syair al Alimul Allamah al Daieilallah al Waliy 'Guru Tua' al Habib Idrus bin Salim al Jufri rahimahullah taalaanhu wa nafaana bihi wa biulumihi fiddoryn, amiin)
MUQADDIMAH
"Ana menamakan madrasah ini Al-Khairat, sempena mengambil barokah dari Lembaga Al-Khairat (yang diasaskan Guru Tua al Habib Idrus bin Salim al Jufri)" - al Mukarram al Habibul Mahbuub Muhammad bin Alawi bin Muhammad al Atthas
Madrasah al-Khairat Kuching dibangun seawal tahun 1989. Saat itu al Habib Muhammad bin Alawi al-Atthas dengan semangat dakwah dan bekalan ilmu tiupan guru tercinta Abuya Sidi Muhammad bin Alawi al Maliki Rahimahullah taala anhu menjadikan aspirasi penubuhan Lembaga Al-Khairat di Jakarta sebagai inspirasi walaupun beliau sendirian. Setelah itu awal tahun 90-an, beliau dibantu al fadhil Ustaz Rafaie dan al Ustadz Sayyidul Habib Mustofa bin Ali al Haddad, kedua-duanya asal Indonesia untuk meneruskan perjuangan madrasah beliau.
Siapakah 'Guru Tua' pengasas Lembaga Al-Khairaat yang menjadi inspirasi guru kita al-Habib Muhammad ini? InsyaAllah kita kongsikan bersama managib ringkas beliau...
NASAB DAN AWAL KEHIDUPAN BELIAU
'Guru tua', begitu Beliau disapa. Beliau adalah Ulama Hadamaut yang hijrah ke Indonesia untuk menjaga benteng pertahanan akidah Islam di Sulawesi dari rongrongan ancaman Missionaris Kristen. Beliaulah pendiri Yayasan Alkhairaat, yang kini terdiri dari TK, SD, SMP,SMA, SMK,MI, MTS, MA hingga Universitas. Lembaga-lembaga pendidikan Islam Al-Khairaat berpusat di Kota Palu dan menyebar ke daerah sekitar, menjadikannya sebagai pintu gerbang dakwah Islam di Kawasan Timur Nusantara.
Nasab Beliau adalah : Habib Idrus bin Salim bin Alwi bin Segaf bin Alwi bin Abdullah bin Husein bin Salim bin Idrus bin Muhammad bin Abdullah bin Alwi bin Abu Bakar Aljufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ali bin Muhammad Faqqqih Al-Muqaddam bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Ali AL-‘Uraidhi bin Jakfar As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Azzahrah binti Rasulullah shallahu alaihi wa sallam.
Habib Idrus lahir di kota Taris, 4 km dari ibu kota Seiwun, Hadramaut, pada 14 sya’ban 1309 H bertepatan dengan 15 Maret 1881 M. Beliau mendapat pendidikan agama langsung dari ayah dan lingkungan keluarganya. Ayah beliau, Habib Salim adalah seorang qadhi (hakim) dan mufti (Ulama yang memiliki otoritas mutlak untuk memberi fatwa) di Kota Taris, Hadramaut. Sedangkan kakek Beliau, Al Habib Alwi bin Segaf Aljufri, adalah seorang ulama di masa itu. Beliau adalah salah satu dari lima orang ahli hukum di Hadramaut yang fatwa-fatwanya terkumpul dalam kitab Bulughul Musytarsyidin, karya Al-Imam Al-habib Abdurrahman Al-Masyhur.
Tatkala Habib Idrus menginjak usia remedial, ayah Beliau Al-Habib Salim melihat bahwa kelak anak nya ini bisa menggantikannya. Beliaupun mendidik anaknya tersebut secara khusus. Habib Salim membuatkan kamar khusus bagi anaknya agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Habib Idrus kemudian mendalami berbagai Ilmu seperti tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani, bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh dan sastra. Selain pada ayahnya, Habib Idrus juga belajar kepada Para Ulama dan Auliya’ di Hadramaut, diantaranya adalah : Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf, Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ibrahim bilfaqih, Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh Al-Bahar, Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi. Dan Al-Habib Abdullah bin Umar As-Syathiri di Rubath Tarim.
BERHIJRAH KE INDONESIA
Kemudian pada tahun 1327 H. atau sekitar tahun 1909 M bersama sang ayah, Habib Idrus berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam datuknya Rasulullah salallahu alaihi wasallam di Madinah. Di sana mereka menetap selama enam bulan. Selama itu Habib Salim memanfaatkan waktunya untuk mengajak putranya ini berziarah kepada para ulama dan Auliya’ yang berada di Hijaz pada masa itu, untuk memminta berkah, do’a serta ijazah dari mereka. Salah satunya kepada Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani di Makkah. Habib Salim kemudian membawa putranya kembali ke Hadramaut. Setelah itu beliau membawa Habib Idrus berlayar ke Indonesia tepatnya di kota Manado untuk menemui ibunya Syarifah Nur Al-Jufri serta Habib Alwi dan Habib Syekh yang merupakan kedua saudara kandung Habib Idrus yang telah terlebih dahulu hijrah ke Indonesia. Setelah beberapa waktu di Indonesia, Habib Idrus dan ayahnya kembali ke Hadramaut. Sebtibanya di Hadramaut, Habib Idrus mengajar di Madrasah yang dipimpin oleh ayah beliau.
Setelah itu Habib Idrus menikah dengan Syarifah Bahiyah, yang kemudian dikaruniai tiga orang anak: Habib Salim, Habib Muhammad dan Syarifah Raguan. Pada bulan Syawwal 1334 H bertepatan dengan 1906 M ayah beliau wafat. Dan pada tahun itu pula Habib Idrus diangkat oleh Sultan Mansur sebagai Mufti dan Qadhi di kota Taris, Hadramaut, padahal usianya saat itu baru 25 Tahun.
Semenjak tahun 1839 M Hadramaut berada dalam penjajahan Inggris. Pada masa penjajahan Inggris itulah Habib Idrus bersama seorang sahabatnya, Habib Abdurrahman bin Ubaidillah (keduanya dikenal sebgai ulama yang moderat) bermaksud ke Mesir untuk mempublikasikan kekjaman Inggris dan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan oleh Inggris di Hadramaut. Setelah sesuatunya dipersiapkan dengan matang dan rapi, keduanya berangkat melalui Pelabuhan Aden. Namun di Pelabuhan Laut Merah itu rencana mereka diketahui oleh pasukan Inggris. Keduanya ditangkap, dokumennya disita dan dimusnahkan. Setelah ditanah beberapa waktu kemudian mereka dibebaskan dengan syarat, mereka tidak diperbolehkan bepergian ke negeri Arab manapun. Setelah kejadian itu Habib Abdurrahman memilih tinggal di Hadramaut, sedangkan Habib Idrus memilih hijrah ke Indonesia.
Pada tahun 1925 M Habib Idrus kembali untuk kedua kalinya ke Indonesia. Pada mulanya beliau tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Di sana beliau menika dengan Syarifah Aminah Al-Jufri. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai dua anak perempuan, Syarifah Lulu’ dan Syarifah Nikmah. Syarifah Lulu’ kemudian menikah dengan Sayyid Segaf bin Syekh Al-Jufri, yang salah seorang anaknya adalah Dr.Salim Segaf Al-Jufri, Duta besar Indonesia untuk Arab Saudi periode sekarang.
BERPINDAH KE KOTA JOMBANG DAN MENDIRIKAN MADRASAH AL-KHAIRAT
Pada tahun 1926 M beliau pindah ke kota Jombang, disana beliau mengajar dan berdagang. Namun di penghujung tahun 1928 M karena seringkali mengalami kerugian dalam berdagang, Habib Idrus berhenti Berdagang dan memulai mengajar. Di tahun itu pula beliau pindah ke kota Solo. Pada tanggal 27 Desember 1928 bersama beberapa Habaib beliau mendirikan Madrasah Rabithah Alawiyah di kota Solo. Namun, pada akhir tahun 1929 M Habib Idrus meninggalkan kota Solo dan hijrah ke Sulawesi. Beliau kemudian berlayar menuju Manado. Ketika kapalnya singgah di Donggala, Habib Idrus menggunakan kesempatan itu untuk berkonsolidasi dengan komunitas Arab yang dipimpin Syekh Nasar bin Khams Al-Amri, di situ beliau mengutarakan tentang rencananya untuk mendirikan madrasah di kota Palu.
Setibanya di Manado, Habib Idrus mendapatkan telegram tentang hasil musyawarah masyarakat arab yang ada di Kota Palu mengenai pendirian Madrasah. Pada akhirnya disepakati bersama bahwa sarana pendidikan berupa gedung akan disiapkan oleh masyarakat arab Palu, sedangkan gaji guru, Habib Idrus yang akan mengusahakannya. Pada awal 1930 M Habib Idrus menuju kota Palu. Dan pada tanggal 30 Juni 1930 M setelah mengurus prizinan pendirian dan surat-surat lainnya ke pemerintah Hindia Belanda, maka, diresmikanlah Madrasah Al-Khairaat di Kota Palu.
Dalam perkembangannya, pengelolaan Madrasah sepenuhnya ditangani oleh Habib Idrus. Para murid yang belajar di sana tidak dipungut biaya sama sekali. Hal ini karena Habib Idrus mengadaptasi sistem pendidikan arab yang pada umumnya tidak memungut biaya kepada para muridnya. Sehingga para murid lebih fokus dalam belajar. Habib Idrus membrikan gaji kepada para guru dan staf sekolah dari hasilnya berdagang.
HABIB IDRUS DAN PERGURUAN AL-KHAIRAT
Habib Idrus mengajar para santrinya dengan penuh dedikasi dan profesionalitas yang tinggi. Keikhlasan dan keuletan beliau telah membuahkan hasil. Perguruan Al-Khairaat waktu itu telah menghasilkan guru-guru Islam yang handal yang kemudian disebarkan ke seluruh pelosok Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, dan Irian Jaya. Keberadaan perguruan Al-Khairaat dan para santrinya telah berhasil membentengi kawasan Timur Indonesia dari para penginjil, yang waktu itu pada masa Hindia Belanda ada tiga organisasi yang bertugas mengkristenkan suku-suku terasing di Sulawesi Tengah. Mereka adalah Indische Kerk (IK) berpusat di Luwu, Nederlands Zending Genootschap (NZG) berpusat di Tentena, dan Leger Dois Hest (LDH) berpusat di Kalawara.
Pada tanggal 11 Januari 1942 M Jepang menduduki Sulawesi dan menjadikan kota Manado sebagai pusat pangkalan di Kawasan Timur Indonesia. Tidak berselang lama stelah itu, Jepang memerintahkan penutupan perguruan Al-Khairaat. Selama tiga setengah tahun kependudukan Jepang, Habib Idrus tidak menyerah sedikitpun untuk mengajar para muridnya. Proses belajar mengajar tetap berlangsung meskipun secara sembunyi-sembunyi. Lokasi pembelajarandialihkan ke desa Bayoge, yang berjarak satu setengah kilometer dari lokasi perguruan Al-Khairaat. Pengajarannya dilaksanakan pada malam hari dan hanya menggunakan penerangan seadanya, para muridnya datang satu persatu secara sembunyi- sembunyi. Tepat saat kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Habib Idrus kembali membuka perguruan Al-Khairaat secara resmi. Beliau berjuang kembali untuk mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam. Hingga selama kurun waktu 26 tahun (1930-1956) lembaga yang telah dirintisnya ini telah menjangkau seluruh kawasan Indonesia Timur.
PERGURUAN AL-KHAIRAT KEPADA UNIVERSITAS AL-KHAIRAT
Perguruan Alkhairaat kemudian mengembangkan sayapnya dengan membuka perguruan tinggi pada tahun 1964 M dengan nama Universitas Islam Al-Khairaat dengan tiga fakultas di dalamnya, yaitu: Fakultas Sastra, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syariah. Dan Habib Idrus sebagai Rektor pertamanya. Ketika terjadi peristiwa pemberontakan G30S PKI pada tahun 1965, perguruan tinggi Al-Khairaat dinonaktifkan untuk sementara. Para Mahasiswanya diberikan tugas untuk berdakwah di daerah-daerah terpencil kawasan Sulawesi. Hal ini sebagai upaya untuk membendung paham komunis sekaligus melebarkan dakwah Islam. Setelah keadaan kondusif, pada tahun 1969 perguruan Tinggi Al-Khairaat dibuka kembali.
KEWAFATAN GURU TUA DAN KARYA AGUNG BELIAU- LEMBAGA AL-KHAIRAT
Masih dalam suasana Idul Fitri, sakit parah yang telah lama diderita Habib Idrus kembali kambuh. Bertambah hari sakitnya semakin berat. Maka, guru, Ulama dan Sastrawan itu wafat, pada hari senin 12 Syawwal 1389 H betepatan dengan 22 Desember 1969 M. sebelum menjelang detik-detik kewafatannya, Habib Idrus sudah mewasiatkan tentang siapa saja yang memandikan jenazah, imam shalat jenazah, tempat pelaksanaan shalat jenazah, siapa yang menerima jenazah di Liang lahat, muadzin di liang lahad, sampai yang membaca talqin di kubur.
Habib Idrus tidak meninggalkan karangan kitab, namun karya besarnya adalah Al-Khairaat dan murid-muridnya yang telah memberikan pengajaran serta pencerahan agama kepada umat. Mereka para murid-murid Al-Khairaat meneybar di seluruh kawasna Indonesia untuk meneruskan perjuangan sang Pendidik yang tak kenal putus asa ini. Salah satu murid belia yang melanjutkan dakwahnya adalah Ustad Abdullah Awadh Abdun, yang hijarh dari kota Palu ke Kota Malang untuk berdakwah dan mendidik para muridnya dengan mendirikan pesantren Daarut Tauhid di Kota Malang. Ketika wafat, Habib Idrus telah mewariskan 25 cabang Alkhairaat dan ratusan sekolah, serta beberapa madrasah yang beliau dirikan kala hidupnya. Kini perguruan Besar Alkahiraat danYayasan Al-khairaat, dibentuk pula Wanita Islam Al-Khairaat dan Himpunan Pemuda Al-Khairaat.












Syaikh 'Abdullah Fahim







ULAMAK YANG MENETAPKAN TARIKH KEMERDEKAAN MALAYA
Beliau adalah Tuan Guru Haji Abdullah bin Haji Ibrahim bin Haji Thahir. Lebih di kenali disini dengan nama Syaikh 'Abdullah Fahim. Dilahirkan di Syi’ib ‘Ali, Mekah pada pada tahun 1286H/1869M, dan wafat pada tanggal 12 Dhulqaedah 1380H/ 27 April 1961M di Seberang Perai, Pulau Pinang. Tuan Guru Haji ‘Abdullah berguru kepada ulama yang masyhur, di dalam pelbagai displin ilmu.
Di antara guru-guru beliau ialah:
1 - Syaikh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi (murid Sidi Ahmad Zaini Dahlan dan pengarang kitab I`aanathuth -Tholibin yang masyhur. Jelas bahawa terdapat hubungan sanad keilmuan antara beliau dengan Sidi Ahmad Zaini.;
2 - Syaikh Muhammad Sa`id BabShil (Mufti Mazhab Syafie);
3 - Syaikh Muhammad Sulaiman Hasbullah al-Makki;
4 - Syaikh Sayyid Muhammad Amin ar-Rdhwan, Madinah;
5 - Syaikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani (pengarang kitab Mathla’ al-Badrain);
6 - Syaikh Wan 'Ali Kutan al-Kalantani (pengarang kitab al-Jauhar al-Mauhub dan Lum’ah al-Aurad);
7 - Syaikh Wan Ahmad Muhammad Zain al-Fathani (pengasas pengkaderan ulama dunia Melayu di Mekah. Beliau dikatakan mahir di dalam sekurang-kurangnya 47 disiplin ilmu).
Beliau mahir di dalam pelbagai displin ilmu, terutamanya di dalam ilmu falak dan kesusteraan arab. Dengan kedudukan ilmu beliau ini, Haji Abdullah telah diterima sebagai salah seorang guru di Masjidil Haram sehingga 1921.
Beliau telah turun ke Tanah Melayu pada 1921 kerana semangatnya untuk memperjuangkan pembebasan tanahair dan bangsanya dari belenggu penjajah. Selepas pulang ke Tanah Melayu, beliau dijemput oleh Syaikhul Islam Kedah, Syaikh Wan Sulaiman Wan Sidiq untuk mengajar di Pondok Wan Sulaiman atau Madrasah Limbongan Kapal (kini Maahad Mahmud) selama empat tahun.
Pada 1926, beliau kembali ke Kepala Batas dengan tujuan menubuhkan sebuah institusi pendidikan bagi melahirkan anak bangsa yang boleh memperjuangkan kemerdekaan negara. Beliau menamakan pusat pengajiannya sebagai “Madrasah ad-Daeratul Maarif al-Wathaniyah”.
Pada 1930, Sheikh Abdullah Fahim dijemput oleh Sultan Perak untuk menjadi Mudir Madrasah Idrisiyah, Bukit Chandan. Beliau berkhidmat sebagai Mudir Madrasah Idrisiyah sehingga 1946. Pada 1951, Haji Abdullah Fahim telah dilantik sebagai Mufti Pulau Pinang yang pertama dan beliau berkhidmat selama lima tahun. Selepas itu, beliau hanya menumpukan kepada kegiatan keilmuan di Kepala Batas dengan menjadi guru agama di sana.
Ketika hendak mengisytiharkan tarikh kemerdekaan Tanah Melayu dari penjajah Inggeris, Tunku 'Abdurrahman Puta al-Haj menemui beliau untuk mendapatkan tarikh yang sesuai. Dan beliau telah mencadangkan tarikh 31 Ogos 1957. (insyaAllah akan ditulis sedikit tentang ini nanti ...)
Beliau juga adalah seorang yang tegas, terutama dalam menghadapi anasir yang membuatkan masyarakat Melayu Islam berpecah belah ketika itu. Ini dapat dilihat pada pesanan beliau:
"بسم الله الرحمن الرحيم. الحمدلله والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه . اما بعد
Tuan-tuan sedia maklum, beratus-ratus tahun bahawa orang bangsa Melayu se Malaya ini dari peringkat ke bawah hingga peringkat ke atas, awam-awam, qadhi-qadhi, ulama-ulama, menteri-menteri, hingga raja-raja, sekalian mereka itu bermazhab dengan Mazhab al-Imam asy-Syafie ijma'an. Tiada seorangpun yang bermazhab lain daripada mazhab Syafie (يحرم خرق الاجماع). – [diharamkan merobek ijma’]
Ambil mereka itu hukum-hukum feqah Syafie daripada kitab Tuhfah, dan kitab Nihayah hingga kitab al-Umm dan mukhtasharatnya dan terjemahnya kepada bahasa Melayu seperti Sabil al-Muhtadin, Bughyah al-Tullab, dan Matla’ al-Badrain dan lainnya. Usuluddin atas perjalanan Abi al-Hasan al-Asy'ari. Diambil dari syuruh dan hawasyi Umm al-Barahin, dan Jauharah dan sebagainya daripada kitab-kitab Melayu. Ilmu tasawuf atas perjalanan al-Imam al-Ghazali diambilkan daripada Minhaj al-Abidin, Ihya' Ulumiddin dan terjemahnya kepada bahasa Melayu, seperti Siyarus Salikin.
Maka ini kitab-kitab dan seumpamanya, segala hukum dalamnya kesemuanya mengistinbat daripada al-Quran dan hadits yang dihalusi dan ditapis oleh ulama-ulama ajilla', diamal dengan dia sudah lebih daripada seribu tahun dan diterjemah kepada bahasa Melayu beratus-ratus tahun.'
[Dirumikan dari tulisan tangan Tuan Guru Hj Abdullah Fahim yang disiarkan di dalam buku Tokoh-tokoh Ulama’ Semenanjung Melayu (2); Terbitan Majlis Ugama Islam Dan Adat Istiadat Melayu Kelantan; Cetakan Tahun 1996; Halaman 39]
Antara pesanan al-Marhum Tuan Guru lagi:
“(Nasihat) supaya jangan berpecah belah oleh bangsa Melayu sendiri. Sekarang sudah ada timbul di Malaya mazhab Khawarij yakni mazhab yang keluar dari mazhab empat mazhab ahli al-Sunnah wal Jamaah [yang beliau maksudkan adalah golongan kaum muda @ Wahabi][1]. Maksud mereka itu hendak mengelirukan faham awam yang sebati dan hendak merobohkan pakatan bangsa Melayu yang sejati. Dan menyalahkan kebanyakan bangsa Melayu……. hukum-hukum mereka itu diambil dari kitab Huda al-Rasul yang mukhasar daripada kitab Huda al-‘Ibad dikarang akan dia oleh Ibnu Qayyim al-Khariji, maka Ibnu al-Qayyim dan segala kitabnya ditolak oleh ulama' Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah."
"Tuan-tuan bangsa Melayu jangan tertipu daya hasutan mereka itu dikeluar hukum-hukum yang tiada terpakai dalam mazhab Syafie, dan fatwa mereka itu masalah yang buruk-buruk, sudah terdengar kepada awam, harapan bangsa Melayu jangan berpecah belah sesama bangsa sendiri …… "
Bahkan pesanan beliau lebih keras lagi: “Siapa yang datang kepada kamu dan menyuruh kamu semua supaya taat kepada seorang lelaki tertentu tujuannya untuk memecahkan persatuan kamu dan menghancurkan kesatuan kamu, maka bunuhlah akan dia (takwil admin kata 'bunuh' dengan 'bunuh dengan hujjah ilmiyyah) wallahualam

https://www.facebook.com/426979547372500/photos/a.428023587268096.94121.426979547372500/814261851977599/?type=1






Mengenali Syeikh Abdullah Fahim - Ulama mahir ilmu falak (Datuk kepada Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi)
ABDULLAH bin Ibrahim bin Tahir dipanggil dengan nama Haji Abdullah Pak Him. Pak Him ialah singkatan nama ayahnya, Ibrahim. Nama atau gelaran yang diketahui umum ialah Syeikh Abdullah Fahim.
Fahim yang dimaksudkan di sini ialah `Fahim' yang berasal daripada bahasa Arab, yang bererti `orang yang faham'.
Beliau lahir di Mekah pada tahun 1286 Hijrah/1869 Masihi, dan wafat pada tanggal 12 Zulkaedah 1380 Hijrah/ 27 April 1961 Masihi di Seberang Perai, Pulau Pinang.
Syeikh Abdullah Fahim mendapat pendidikan asas tradisional daripada ayahnya sendiri, Haji Ibrahim bin Tahir di Mekah.
Ayahnya seorang yang alim mengenai bacaan al-Quran. Datuknya pula, Haji Tahir berasal dari Patani. Dikatakan juga bahawa beliau memahami ilmu-ilmu Islam tradisional cara Patani.
Ilmu yang dikuatkan adalah tiga jenis; ilmu yang berkaitan dengan fardu ain, iaitu menurut akidah Ahli Sunnah wal Jamaah, berimamkan Imam Abu Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
Kedua, ilmu fikah mengikut Mazhab Syafie, dan ketiga, ilu tasawuf berimamkan Syeikh Junaid al-Baghdadi.
Selanjutnya Syeikh Abdullah Fahim mendapat pendidikan pelbagai bidang ilmu juga di Mekah. Beliau menuntut ilmu daripada kira-kira 50 orang ulama.
Di antara gurunya yang berbangsa Arab ialah Syeikh Muhammad Said Babsail (Mufti Mazhab Syafie), Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayed Abu Bakri Syatha (penyusun kitab I'anah at-Thalibin)
Ulama dari dunia Melayu yang menjadi gurunya yang paling berpengaruh baginya ialah Syeikh Muhammad bin Ismail Daudi al- Fathani (penyusun kitab Mathla' al-Badrain), Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan, al-Kalantani (penyusun Al-Jauhar al-Mauhub dan Lum'ah al-Aurad) dan Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani (pengasas pengkaderan ulama dunia Melayu di Mekah yang dikatakan mempunyai kemahiran sekurang-kurangnya 47 disiplin ilmu).
Sewaktu menuntut ilmu di Mekah, Syeikh Abdullah Fahim bersahabat dengan beberapa orang yang berasal dari dunia Melayu, yang kemudian menjadi ulama dan tokoh-tokoh yang cukup terkenal.
Di antara mereka ialah: Tuan Guru Haji Umar, Sungai Keladi Kelantan (1284 H/1867 M -1366 H/1947 M), Syeikh Tahir Jalaluddin, Minangkabau (1286 H/1869 M-1376 H/1956 M), K.H. Hasyim Asy'ari, Jawa Timur (1287 H/1871 M-1366 H/1947 M), Tok Kenali, Kelantan (1287 H/1871 M-1352 H/1933 M) dan ramai lagi.
Syeikh Abdullah Fahim seorang yang gigih mengajar kepada masyarakat dan menyebarkan ilmu-ilmu keIslaman, sama ada ketika menjawat jawatan Mufti Pulau Pinang atau sebelumnya.
Beliau pernah mengajar di beberapa tempat di Kedah, Kuala Kangsar, Perak dan Pulau Pinang. Selanjutnya beliau berhasil mendirikan sekolah agama di Seberang Perai Utara.
Kepakaran ilmunya:
Syeikh Abdullah Fahim termasuk salah seorang ulama yang mahir dalam ilmu falak. Oleh kerana itu pendapatnya telah diminta untuk menentukan waktu yang sesuai bagi kemerdekaan Malaya.
Berdasarkan hisab dan falak Syeikh Abdullah Fahim, ditentukanlah bahawa hari kemerdekaan Malaya jatuh pada tanggal 31 Ogos 1957.
Mengenai ilmu hisab dan falak, beliau mempelajarinya daripada Syeikh Ahmad al-Fathani dan kemudian memahirkannya daripada Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Muhammad/ Syeikh Nik Mat Kecik bin Ismail Daudi al-Fathani, sahabatnya.
Ulama dunia Melayu yang seangkatan dengannya yang mahir dalam ilmu hisab dan falak tidak begitu ramai. Di antaranya yang berasal dari Malaysia ialah: Haji umar, Sungai Keladi Kelantan, Haji Abu Bakar bin Haji Hasan, Qadhi Muar, Johor.
Sementara mereka yang berasal dari Indonesia pula ialah Syeikh Jamil Jambek dan Syeikh Tahir Jalaluddin.
Mereka yang berasal dari Patani ialah Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani dan Syeikh Abdur Rahman Gudang al-Fathani.
Ilmu langka, selain ilmu hisab dan falak yang dikuasai oleh ASyeikh Abdullah Fahim, ialah ilmu sastera Arab, yang dinamakan juga ilmu `arudh dan qawafi.
Termasuk juga di dalamnya ialah ilmu isti`arah dan ilmu balaghah. Pengkaderan ilmu yang tersebut juga dimulai dengan kebangkitan Syeikh Ahmad al-Fathani.
Kader dan murid Syeikh Ahmad al-Fathani yang mahir menggubah syair dalam bahasa Arab secara profesional hanya beberapa orang, di antara mereka ialah: Syeikh Abdullah Fahim, Syeikh Muhammad Nur bin Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani dan Syeikh Tengku Mahmud Zuhdi bin Abdur Rahman al-Fathani, Syeikh al-Islam Selangor.
Karya dan pemikirannya:
Karya-karya hasil tulisan Syeikh Abdullah Fahim yang paling dapat ditonjolkan hanyalah melalui syair-syairnya dalam bahasa Arab, yang ditulis di dalam beberapa buah kitab yang diterbitkan oleh Persama Press Pulau Pinang, terutama sekali di dalam kitab-kitab mengenai ilmu hadis.
Di antaranya dalam kitab al-Hadiqah an-Nadiyah fi al-Hadits an-Nabawiyah yang disusun oleh Abi Abdil Hay Muhammad Isa bin Ibrahim ar-Rawa al-Filfulani (Rabiulakhir 1352 H).
Ada yang mengatakan bahawa Syeikh Abdullah Fahim pernah menyusun sebuah kitab tafsir dan kitab mengenai ilmu falak tetapi tidak sempat diselesaikannya.
Walau bagaimanapun di atas selembar kertas dapat disemak jalan pemikirannya, di antaranya beliau beliau menulis:
``Tuan-tuan sedia maklum, beratus-ratus tahun bahawa orang-orang bangsa Melayu se Malaya ini dari peringkat ke bawah hingga peringkat ke atas, awam-awam, qadhi-qadhi, ulama-ulama, menteri-menteri, hingga raja-raja, sekalian mereka itu bermazhab dengan Mazhab al-Imam asy-Syafie ijma'an. Tiada seorang pun yang bermazhab lain daripada Mazhab Syafie ... ``
Syeikh Abdullah Fahim menyebut nama kitab-kitab Arab yang dipegang di dalam Mazhab Syafie ialah, ``Ambil mereka itu hukum fikah Syafie daripada kitab Tuhfah, dan kitab Nihayah hingga kitab al-Umm dan mukhtasharatnya ... ``
Walaupun ilmu pengetahuan Arabiyahnya luas melaut, namun beliau juga merujuk kitab-kitab bahasa Melayu yang dikarang oleh ulama-ulama dunia Melayu yang terkenal.
Kitab-kitab yang beliau sebut ialah, ``Dan terjemahannya kepada bahasa Melayu, seperti Sabil al-Muhtadin, Bughyah at-Thullab, Mathla' al-Badrain dan lainnya''
Mengenai pegangan akidahnya, Syeikh Abdullah Fahim menulis, ``Usuluddin atas perjalanan Abi al-Hasan al-Asy'ari. Diambil dari syuruh dan hawasyi Umm al-Barahin, dan Jauharah ... ``
Pegangan akidah dalam bahasa Melayu pula beliau sebut, ``Dan sebagainya daripada kitab-kitab Melayu''.
Yang dimaksudkan di sini semua kitab Melayu/Jawi yang membicarakan akidah yang dikarang oleh ulama-ulama dunia Melayu muktabar.
Beliau pernah belajar dan mengajar kitab berkenaan, di antaranya Faridah al-Faraid oleh guru beliau, Syeikh Ahmad al-Fathani, Aqidah an-Najin juga oleh guru beliau yang bernama Syeikh Zainal Abidin bin Muhammad al-Fathani dan ad-Durr ats-Tasamin oleh Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dan kitab-kitab akidah lainnya.
Mengenai pegangannya di dalam tasawuf, beliau menulis, ``Ilmu tasawuf atas perjalanan al-Imam al-Ghazali diambilkan daripada Minhaj al-Abidin, Ihya' Ulumid Din ...''
Di dalam tasawuf beliau juga memartabatkan pengkaryaan ulama Melayu. Katanya, ``Dan terjemahnya kepada bahasa Melayu, seperti Siyar as-Salikin''.
Syeikh Abdullah Fahim menegaskan, ``Maka ini kitab-kitab dan seumpamanya, segala hukum dalamnya kesemuanya mengistinbat daripada al-Quran dan hadis yang dihalusi dan ditapis oleh ulama-ulama ajilla', diamal dengan dia sudah lebih dari seribu tahun dan terjemah kepada bahasa Melayu beratus-ratus tahun.''
Keturunannya:
Di antara anak Syeikh Abdullah Fahim ialah Datuk Haji Ahmad Badawi. Beliau adalah seorang alim yang bertanggungjawab menangani sekolah agama yang didirikan oleh ayahnya.
Di antara anak Datuk Haji Ahmad Badawi pula ialah Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi yang secara rasmi dilantik menjadi Perdana Menteri Malaysia pada hari Jumaat, 31 Oktober 2003 Masihi bersamaan 5 Ramadan 1424 Hijrah oleh Yang Dipertuan Agong Malaysia.

Sumber:
https://www.facebook.com/426979547372500/photos/a.428023587268096.94121.426979547372500/870004093070041/?type=1










Isnin, 20 Julai 2015

ADAB PENUNTUT ILMU




ADAB PENUNTUT ILMU
Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin Al-Maliki As-Sanusi berkata :
"Junjunglah adab dan akhlak yang terpuji dalam menuntut ilmu kerana manfaatilmu itu bergantung kepada sebesar mana adabmu terhadap ilmu dan guru.
Jangan rasa terhina bila kamu belajar ilmu agama, tetapi sebenarnya ketahuilah ianya amat tinggi di sisi Allah SWT".

ADAB MENUNTUT ILMU
Imam al-Ghazali rahimahullahu ta'ala menitipkan di dalam kitabnya iaitu Ihya' Ulumuddin.
Antara akhlak atau adab menuntut ilmu yang perlu dijaga dan dititikberatkan ialah hendaklah murid yang baru belajar menjaga dirinya daripada belajar ilmu yang diperselisihkan oleh kebanyakan ulama' iaitu permasalahan khilafiyyah.
Ini kerana ia akan menjadikan murid tersebut bingung, hairan dan tidak akan terhasil faedah kepadanya. Bahkan ia akan menyusahkan hati murid kerana tidak tahu untuk berpegang dengan pendapat yang mana.
Justeru, hendaklah murid yang mubtadi' iaitu yang diperingkat asas, mempelajari ilmu yang menenangkan hatinya untuk melakukan sesuatu ibadah.

ADAB MENUNTUT ILMU
[NIAT]
"Jika antum ingin mencari ilmu hanya kerana ingin berdebat dan berbantah-bantahan, maka keluarlah daripada majlis ini. Beristighfarlah. Perbetulkan niatmu. Kemudian masuklah semula jika niatmu sudah murni. Niat yang murni itu sudah cukup untuk membuatkan antum membawa pulang segunung ilmu dan keberkatan".

Syeikh Muhammad Fuad Kamaludin Al-Maliki As-Sanusi berkata :
"Saya seboleh-bolehnya mengamalkan pendekatan ahli sufi iaitu menganggap orang tua lebih hebat kerana mempunyai banyak ilmu dan amal,
orang muda lebih hebat kerana tidak banyak melakukan dosa berbanding orang yang lebih berusia,
dan orang jahil lebih beruntung kerana mereka melakukan maksiat kerana tidak berilmu berbanding orang yang berilmu tetapi masih melakukan maksiat".

Syeikh Muhammad Fuad bin Kamaludin Al-Maliki As-Sanusi berkata :
"Kalaulah Al-Quran boleh membimbing kita, kalaulah kitab hadis boleh membimbing kita, maka Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam tidak risau dengan kematian para ulama'. Tetapi sebaliknya, Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam telah memberitahu betapa bimbangnya Baginda sallallahu 'alaihi wasallam apabila berlakunya kematian para ulama' kerana ilmu diambil dari ulama'. Bukan dari kitab. Kitab hanya wasilah sahaja".





Guru pesan "budak pondok nak dapat ilmu kena banyak bersabar, tak semesti belajar hari ini boleh faham.
Jika sampai masa Allah akan bukakan pintu kefahaman. Tugas guru hanya mengajar, Allah yang memberi faham"











Pepatah arab ada menyebut ;
العلم في الصدور لا في السطور
"Ilmu itu di dada bukan di lembaran-lembaran kertas"
Hakikat ilmu itu diambil daripada dada para
ulama' bukan hanya melalui buku dan internet.
Inilah tradisi ilmu islam yang tidak diikuti oleh golongan wahabi sehingga membawa mereka ke lembah kesesatan dan kehinaan..
Sabda Nabi SAW riwayat Imam Bukhari ;
إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara menarik dari dada seseorang hamba akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama' sehingga tiada lagi orang alim (Kemudian) manusia menjadikan orang-orang yang jahil sebagai ketua maka mereka ditanya dan mereka berfatwa tanpa ilmu maka mereka telah sesat dan menyesatkan".
صدق رسول الله صلى الله عليه وسلم
Semoga Allah memilih kita untuk bersama para ulama' dan menjauhi golongan yang biadap terhadap ulama'..



















Huraian Tentang Perkataan Imam Syafi'i: Apabila sahih suatu hadis maka ia adalah mazhabku



Huraian Tentang Perkataan Imam Syafie (اذا صح الحديث فهو مذهبي-"Apabila sahih suatu hadis maka ia adalah mazhabku")

[Tulisan Hafiz Al Hasyiri]

Huraian Tentang Perkataan Imam Syafie 
(اذا صح الحديث فهو مذهبي-"Apabila shahih suatu hadis maka ia adalah mazhabku")

Perkataan Imam Syafie sering kali disalah ertikan oleh Wahabi Sebahagian daripada Wahabi menggunakan perkataan ini bagi :

1) Menyatakan Imam Syafie tidak mahu pengikutnya taksub kepadanya.
2) Menyatakan Imam Syafie menyatakan jika menemui hadis sahih yang bercanggah dengan pendapatnya, maka tinggalkan pendapatnya.
3) Menggunakan perkataan ini bagi mendakwa Imam Syafie juga menggalakkan agar berpegang kepada hadis sahih sahaja bukan kepada mazhabnya.
4) Wahabi juga menggunakan perkataan ini bagi menyokong perjuangan mereka iaitu tidak bermazhab.
5) Wahabi menggunakan perkataan ini dan perkataan seumpamanya yg dtg drp Imam Mazhab utk menggalakan agar meninggalkan mazhab.

¿?¿? Soalan kami, kepada siapakah perkataan ini ditujukan? Pada perhatian kami, ada tiga pendapat mengenai kata-kata ini ditujukan:

1) Imam Nawawi menyatakan dalam Al-Majmu’ :

“ Dari Imam As-Syafie r.h.m, beliau berkata: ‘Apabila kamu (para ulama) mendapati di dalam kitab yang aku tulis menyalahi dengan Sunnah Rasulullah s.a.w, maka berfatwalah kamu semua dengan Sunnah Rasulullah s.a.w dan tinggalkan pendapatku’. Dan diriwayatkan dari Imam Syafie juga: ‘Apabila ada hadis sahih yang maksudnya bertentangan dengan fatwaku, maka beramallah kamu dengan hadis itu dan tinggalkanlah perkataanku”. Atau di lain tempat beliau berkata: ‘Itulah mazhabku’.

- Bagaimanapun Imam An-Nawawi yang merupakan Mujtahid Mazhab atau Mujtahid Fatwa dalam mazhab Syafie telah menjelaskan perkataan Imam Syafie ini, antara lain beliau berkata :

- Dan apa yang dikatakan oleh Imam Syafie ini bukanlah ertinya bahawa kalau seseorang melihat hadis yang sahih, maka terus mengatakan: ‘Inilah mazhab Syafie’, kemudian terus beramal dengan zahir kalam itu semata-mata. Bahkan sebenarnya kalam Imam Syafie tersebut ditujukan kepada para ulama yang telah SAMPAI kepada peringkat ijtihad di dalam mazhab.”

- Di sini dapat kita faham bahawa ucapan Imam Syafie itu BUKANLAH tertuju kepada orang awam, tetapi ditujukan kepada ULAMA yang telah mencapai tahap ijtihad. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Imam Syafie tidak pernah menutup pintu ijtihad dan secara tidak lansung beliau telah mengajarkan satu qaedah dalam mengistinbat hukum. Ucapannya ini juga menunjukkan sifat TAWADHUK yang ada dalam diri beliau.

2) Banyak hadis sahih yang telah sampai kepada Imam Syafie atau yang ia mengetahui tetapi ia tidak beramal dengan zahir hadis itu kerana Imam Syafie mengeluarkan hukum daripada hadis yang TERLEBIH RAJIH daripadanya. Terkadang hadis itu MANSUKH (hadis yang dibatalkan hukumnya) atau ada hadis yang lain yang menTAKHSISkan atau Imam Syafie telah menTAKWIL (mengambil makna lain selain daripada makna zahir) hadis itu atau lainnya.

3) Ada setengah ulama menyebut bahawa perkataan ini ditujukan kepada Ashab (anak murid) Imam Syafie iaitu Imam Al-Muzani dan Imam Al-Buwaithi ketika mereka mengemukakan pertanyaan ‘yang mana satu hendak dipegang antara dua perkataan Imam Syafie iaitu Qaul Qadim (pendapat Imam Syafie semasa di Baghdad) dan Qaul Jadid (pendapat Imam Syafie semasa di Mesir’). Maka Imam Syafie memberi jawapan dengan berkata : اذا صح الحديث فهو مذهبي (maksudnya : pendapat yang manakah yang menepati dengan hadis sahih, itulah mazhabku)

~~~> Oleh kerana itu perkataan Imam Syafie tersebut dibahaskan di dalam Muqaddimah Majmu’ Imam Nawawi sebelum beliau masuk kepada tajuk :
“Fasal bagi setiap masalah feqah ada padanya dua pendapat di sisi Imam Syafie iaitu qaul qadim dan qaul jadid”

~~~> Persoalan yang mudah, adakah sama pengertian WaHaBi terhadap kata-kata Imam Syafie sama dengan pengertian di atas?

- Kalau dalam memahami perkataan Imam Syafie sahaja kamu sudah tersilap bagaimanakah kamu hendak memahami Al-Quran dan Hadis secara terus?


Sumber:
https://www.facebook.com/notes/adab-ilmu-original/huraian-tentang-perkataan-imam-syafie-%D8%A7%D8%B0%D8%A7-%D8%B5%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%81%D9%87%D9%88-%D9%85%D8%B0%D9%87%D8%A8%D9%8A-apabila-sahih-suat/328383797335423

atau: Klik

Sumber lain : Klik




Rabu, 10 Jun 2015

BIOGRAFI TUAN GURU HJ. ISMAIL BIN OMAR ( BABA EIL )




Kelahiran, Keluarga dan Pendidikan. 

Nama asal beliau ialah Ismail bin Omar atau lebih dikenali sebagai Baba Eil Spanjang iaitu panggilan bagi seorang Tuan Guru. Dilahirkan di Kampung Dusun Spanjang Daerah Penarik, Patani kira-kira 20 km dari Bandar Patani. Merupakan anak lelaki tunggal dalam keluarga sebanyak 3 beradik.

Mendapat pendidikan awal di Sekolah Rendah Kampung Dusun Spanjang. Kemudian menyambung pendidikan di pondok berdekatan rumahnya (200 meter) pada ketika usia 14 tahun. Beliau dihantar belajar agama oleh keluarganya dengan Almarhum Tuan Guru Haji Abdul Latif. Selain itu, beliau juga berguru dengan Almarhum Tuan Guru Haji Abdul Rahman dengan mendalami pelbagai ilmu antaranya Tafser, Hadis, Feqah, Nahu dan lain-lain. 

Manakala tiba musim cuti semester Baba Eil pergi belajar di pondok lain pula bagi mengisi masa lapang. Ketika umur beliau mencapai 21 tahun, beliau berpindah ke Pondok Haji Abdul Qader Sekam (Baba Der) yang terkenal dengan ilmu tauhid untuk belajar di sana sehinggalah umur beliau 30 tahun. 

Ketika di sana beliau bukan setakat mengajar kepada pelajar tetapi mula menerima undangan mengajar masyarakat sekitar. Antara tempat yang beliau masih mengajar hingga ke hari ini ialah Masjid Yala (21 tahun) dan Masjid Patani (22 tahun). 

Ketika umur beliau 29 tahun, beliau telah mendirikan rumahtangga dengan Hajah Sabariah Binti Tuan Guru Haji Abdul Aziz (Pengarang Kitab Misbahul Munir). Hasil perkahwinan tersebut, beliau dikurniakan 5 cahayamata ( 2 lelaki dan 3 perempuan ).

Selepas itu ketika berumur 31 tahun, beliau telah pergi ke Mekah dan bermuqim di sana selama 7 bulan.. Pada tahun 1993, setelah kembali dari Mekah, barulah Baba Eil membuka pondok di Kampung Kubang Ikan Bandar, Narathiwat yang dikenali dengan nama Maahad Darul Muhajirin. Dalam tempoh tersebut, beliau juga selalu berulang-alik ke Kelantan untuk memenuhi jemputan mengajar. 

Akhirnya pada tahun 1998, pondok beliau telah berpindah ke kampung beliau sendiri di Kampung Dusun Spanjang hinggalah ke hari ini. Rutin harian beliau dipenuhi dengan mengajar agama kepada pelajar yang datang dari pelbagai pelusuk dalam dan luar negara seperti Kemboja, Malaysia dan Burma tanpa menerima bayaran. Sehingga kini, terdapat lebih kurang 200 orang pelajar yang sedang menuntut di pondok beliau. 

Pengajian berlangsung sepanjang tahun melainkan pada waktu cuti iaitu 15 Sya’ban hingga 15 Syawal ( 2 bulan ), cuti Raya Haji ( seminggu ) dan bulan Rabiulawal ( 1 bulan ).. 

Selain itu, Baba Eil juga memberi khidmat masyarakat dengan mengajar pada setiap hari Sabtu di Masjid Patani dan setiap Ahad di Masjid Yala.. Kuliah Baba Eil sering disiarkan di radio tempatan. Selain mengajar, Baba Eil memenuhi masa lapang dengan mentelaah dan mengarang kitab. Antara kitab karangan Baba Eil ialah “Mizan ad-Durari”, “Hikam Jawi”, “Mawaiz al-Iman”, dan karangan dalam bidang tafsir,hadis dan Qawaid. Selain itu,Baba Eil telah dilantik sebagai Ahli Jawatankuasa Fatwa Persatuan Ulama Fathoni. 

Antara kata-kata dan pesanan Baba Eil ialah:

kita sebagai{tolibul ilmi} penuntut ilmu, haruslah memperkemaskan ilmu akidah kita..Jauhilah kita dari iqtiqod akidah yang salah yakni iqtiqod yang selain dari iqtiqod ahli sunnah waljamaah..akidah kita ahli sunnah waljamaah,sesungguhnya ALLAH itu tidak menyamai sekalian makluk.. 

yakni ALLAH yang menciptakan sesuatu,dan akal kita yang waras mengatakan bahawa ALLAH tidak berhajat pada sesuatu,tetapi setiap sesuatu yang berhajat pada ALLAH. 

ALLAH itu tidak beranggota{tidak mempunyai tangan,mata dll} 

ALLAH tidak mempunyai mata tetapi ALLAH maha melihat,ALLAH tidak mempunyai tangan,tetapi ALLAH maha berkuasa atas setiap sesuatu.. 

firman ALLAH subhanahuwataala, 
dalilnya laisa kamislihi syai,wahuassamaiulbasir 
yakni ALLAH itu tidak menyerupai sekalian makhlu{tidak beranggota dan sebagainya}tetapi ALLAH maha melihat dan maha berkuasa atas setiap sesuatu.



Sumber:
http://pondoktauhid.blogspot.com/2013/08/biografi-tuan-guru-hj-ismail-bin-omar.html







Isnin, 8 Jun 2015

Tuan Syeikh Haji Muhammad Lip Bin Haji Hasan, penulis kitab Tanbih Al Ghofilin 1904 - 1989)





Permata Muar (Al Fatihah utk Almarhum Tuan Syeikh Haji Muhammad Lip Bin Haji Hasan, penulis kitab Tanbih Al Ghofilin 1904 - 1989)
Nama lengkap dari sebelah ayah ialah Haji Muhammad Lip bin Haji Hasan bin Arsyad bin Mahmud bin Abu Bakar. Hanya sampai pada nama Abu Bakar saja bahan yang bertulis yang saya peroleh dari kewarisan Pondok Ribath, Parit Perupok. Selanjutnya dicatatkan bahawa mereka berasal dari Melaka dan lebih jauh lagi berasal dari aliran darah Majapahit di tanah Jawa. Di sebelah ibu pula, ayahnya ialah Haji Hasan bin Haji Arsyad kahwin dengan Bainah (Mak Ulang) binti Ibrahim Latis. Ibrahim Latis kahwin dengan Puteh (Cepat). Ayah Puteh dikenali sebagai Panglima Hitam (Panglima Laut). Digelar begitu kerana beliau adalah seorang panglima yang mengawal laut dan pantai sekitar Parit Perupok, Parit Tok Akil, Parit Jong, Parit Sakai, dan lain-lain sekitarnya.
Haji Muhammad Lip lahir di Parit Perupok, Muar, 1322 H/1904 M, wafat 1409 H/1989 M. Mendapat pendidikan Islam dari ayah dan ibunya sejak kecil dan pernah masuk Madrasah Al-Attas di Johor Bahru. Muhammad Lip belajar pula di Madrasah Parit Raja, Muar sehinggalah umurnya 24 tahun. Selanjutnya Haji Muhammad Lip belajar daripada Tuan Guru Haji Abdur Rahman bin Taqin di Air Molek, Melaka. Beliau belajar di Air Molek Melaka itu mulai tahun 1925 M hingga tahun 1930 M.
Dalam masa belajar itu Tuan Haji Muhammad Lip adalah sebagai Ketua Thala'ah. Mereka di bawah bimbingannya yang menjadi tokoh-tokoh yang berperanan ialah Tuan Guru Haji Abdul Wahid bin Utsman, Sungai Udang, Melaka, Tuan Haji Husein, Umbai, Tuan Kadi Haji Abdullah, Durian Tunggal, Tuan Kadi Haji 'bdullah, Duyung, Melaka, Tuan Kadi Hakim, Johor, dan Tuan Haji Ahmad, Tengkera, Melaka.
Selanjutnya Haji Muhammad Lip bersama-sama dengan Haji Rahmat Khan belajar pula dengan Tuan Guru Haji Abdul Lathif Nuruddin Tambi. Tuan Guru Haji Abdul Lathif adalah seorang ulama besar yang mendapat pendidikan di Mekah. Beliau termasuk salah seorang murid kepada Syeikh Ahmad al-Fathani. Di antara ilmu yang dipelajari dari Haji Abdul Lathif ialah nahu, sharaf (dan lain-lain yang dinamakan ilmu alat), usuluddin, fiqh, tasawuf, dan lain-lain. Setelah itu, Haji Muhammad Lip belajar pula kepada Tuan Guru Haji Ahmad, Paya Rumput, Melaka. Dari Paya Rumput, Melaka Haji Muhammad Lip meneruskan pelajarannya ke Kelantan, belajar di Pondok Tok Kenali. Beliau sempat dalam asuhan Tok Kenali hanya sekitar dua tahun lapan bulan saja, sehingga Tok Kenali meninggal dunia pada 1933. Ilmu-ilmu yang paling utama yang diperolehi beliau daripada Tok Kenali ialah ilmu alat dan tasawuf.
Haji Muhammad Lip pulang ke kampung halamannya tahun 1934 dan seterusnya mulai mengajar di rumah ayahnya. Disimpulkan bahawa sekurang-kurangnya tiga orang di antara gurunya yang tersebut di atas ialah Haji Abdul Lathif, Haji Ahmad, Paya Rumput, dan Tok Kenali adalah murid Syeikh Ahmad al-Fathani. Oleh sebab itulah Haul Kewafatan Ke-101 Syeikh Ahmad Al-Fathani diadakan di Pondok Ribath atas persetujuan bersama antara Pondok Ribath dengan Pengkaji.
Haji Muhammad Lip berkahwin dengan Hajah Halimah binti Abdur Razzaq. Ayah mertuanya ialah orang kaya di Muar pada zaman itu. Beliau membeli sebidang tanah yang kemudian diwakafkan untuk Haji Muhammad Lip menjalankan aktiviti menyebarkan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. Haji Muhammad bin Yahya selanjutnya menyebut bahawa saksi tentang wakaf itu ialah Haji Muhammad bin Haji Saleh, yang kemudian menjadi Mudir Pondok Ribath. Saksi yang seorang lagi ialah Haji Abdur Rahman Yasin (Imam Trono). Beliau pernah menjadi Imam di Masjid Jamik Muar. Menurut Haji Muhammad bin Yahya (Muar) lagi, bahawa Pondok Ribath beroperasi mulai tahun 1934 hingga 1961. Proses sesudah tahun tersebut sampai sekarang (Julai 2006) kita saksikan sendiri, tidak diceritakan oleh Haji Muhammad bin Yahya.
JALINAN PENGAJIAN
Jalinan penurunan ilmu yang pelbagai dari Syeikh Ahmad al-Fathani kepada ulama Johor, termasuk Tuan Guru Haji Muhammad Lip terlalu panjang untuk dibicarakan. Sebagai contoh pada pengajian ilmu akidah atau ilmu tauhid Ahli Sunah wal Jamaah Johor yang ada hubungan dengan Syeikh Ahmad al-Fathani, di antara sejarah yang telah dikesan adalah sebagai yang berikut:
1. Karya Syeikh Ahmad al-Fathani judul Faridah al-Faraid, diajar di Johor sejak zaman peringkat murid Syeikh Ahmad al-Fathani hingga sekarang. Ustaz Katimun meriwayatkan kepada saya, yang didengar oleh beberapa orang bahawa beliau (Ustaz Katimun) belajar kitab Faridah al-Faraid hingga tamat daripada Cikgu Muhammad Yasin (iaitu ayah Tan Sri Muhyiddin Yassin). Cikgu Muhammad Yasin belajar kitab itu hingga tamat daripada Haji Abu Bakar Alim al-Muari. Syeikh Ahmad al-Fathani termasuk salah seorang di antara guru Haji Abu Bakar Alim dalam pelbagai bidang ilmu ketika di Mekah. Haji Abu Bakar Alim sempat belajar secara langsung beberapa kitab karangan Syeikh Ahmad al-Fathani kepada Syeikh Ahmad al-Fathani sendiri termasuk juga Faridah al-Faraid yang dibicarakan ini.
2. Dalam rangka perundingan akan mengadakan perhimpunan ini, pada 8 Jun 2006, Ustaz Baharuddin bin Muhammad Saman (Mudir Pondok Ribath sekarang) memberitahu beliau telah tamat belajar Faridah al-Faraid daripada salah seorang Tok Guru Pondok dari Kedah. Ustaz Baharuddin juga mengajar kitab itu. Selain itu, beliau juga menceritakan bahawa pengasas Pondok Ribath bernama Tuan Guru Mat Lip bin Haji Hasan adalah murid Tok Kenali Kelantan. Oleh sebab Tok Kenali Kelantan adalah murid yang paling rapat kepada Syeikh Ahmad al-Fathani, bahkan Tok Kenali mengaku sebagai khadam kepada gurunya itu, ini bermakna Pondok Ribath dapat dipisahkan dengan sejarah Syeikh Ahmad al-Fathani. Bererti sanad keilmuan yang pelbagai dapat dihubungkan secara jelas dan nyata yang tidak kita ragui.
3. Maklumat dari Ismail, Pustaka Fajar, ia menceritakan bahawa salah seorang anak perempuan Tuan Haji Abdul Ghani bin Haji Yahya tinggal di Shah Alam berjiran dengannya. Anak perempuan Tuan Haji Abdul Ghani bin Haji Yahya menceritakan bahawa ayahnya adalah belajar dan memperoleh ilmu dari Tok Kenali Kelantan. Tuan Haji Abdul Ghani bin Haji Yahya adalah seorang ulama Johor yang menghasilkan beberapa karangan di antaranya ialah Risalah at-Tauhid, Suluh Mathla' al-Badrain, Cahaya Mustika Qaidah Membahagi Pusaka, Pelajaran Tasawuf Darjah V Bagi Murid-Murid Sekolah Agama Kerajaan Johor dan lain-lain. Oleh sebab Tuan Haji Abdul Ghani bin Haji Yahya juga murid Tok Kenali Kelantan, maka secara pasti adalah seperguruan dengan Tuan Guru Haji Muhammad Lip. Sekali gus ada hubungan sejarah dengan Syeikh Ahmad al-Fathani.
ISTILAH RIBATH DAN WASIAT
Sekurang-kurangnya ada dua ulama dunia Melayu yang ada jalinan asal usul keilmuan Tuan Guru Haji Muhammad Lip yang pernah menyebut istilah Ribath dalam karya mereka ialah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dalam Jam'ul Fawaid dan tulisan Syeikh Ahmad al-Fathani dalam Hadiqah al-Azhar. Perkataan ribath mengandungi pengertian yang pelbagai iaitu ikatan, balutan, markas tentera, tempat yang diwakafkan untuk orang miskin, hati, pondok pengajian dan lain-lain.
Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani menterjemahkan ribath sebagai bertunggu pada tempat takut (Jam'ul Fawaid, muka surat 178). Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani menulis, ada pun kelebihan ribath, yakni menunggu tempat takut. Riwayat daripada Uthman bin Affan r.a, sabda Rasulullah s.a.w. ribath satu hari di dalam sabilillah itu afdal daripada puasa 1,000 hari dan berdiri 1,000 malam.
Hadis yang lain pula riwayat Salman al-Farisi, Sabda Nabi s.a.w. bahawasanya ribath sehari di dalam sabilillah itu terlebih baik daripada puasa sebulan, dan berdiri sembahyang sebulan. Dan barang siapa mati, padahal dia murabith, dilepaskan daripada fitnah kubur. Dan disurat baginya amalnya seperti seelok-elok barang yang ada ia beramal hingga hari kiamat. (Jam'ul Fawaid, muka surat 184).
Syeikh Ahmad al-Fathani dalam karyanya Hadiqah al-Azhar menggunakan ayat 60, surah al-Anfal terjemahan dan tafsir ringkas Syeikh Ahmad al-Fathani ialah, Dan bersedia oleh kamu bagi mereka itu, akan barang yang kuasa kamu daripada kekuatan dan daripada mengawali beberapa kuda pada negeri dan tepi-tepinya hal keadaan menakut kamu dengan dia akan seteru Allah dan seteru kamu ... Syeikh Ahmad al-Fathani menafsirkan ayat itu dengan panjang, diutamakan dalam pemikiran pendidikan di dunia Melayu mahu pun pelbagai aspek yang ada hubungan dengannya.
Kesimpulannya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani menggunakan banyak perkataan ribath pada konteks jihad fi sabilillah. Syeikh Ahmad al-Fathani menggunakan perkataan ribath dengan tafsiran yang sangat luas, mulai dari pendidikan hinggalah keseluruhan permasalahan keperluan umat Islam dan umat Melayu. Tuan Guru Haji Muhammad Lip meneruskan perjuangan dengan Pondok Ribathnya. Sebelum beliau meninggal dunia, pada malam Jumaat, 21 Ogos 1989, Tuan Guru Haji Muhammad Lip berwasiat kepada murid dan anak-anaknya. Wasiat seumpamanya adalah serupa dengan ulama-ulama yang terdahulu termasuk tiga guru beliau yang tersebut di atas iaitu, Apa-apa yang Cikgu sudah ajar dalam kitab-kitab serta risalah-risalah yang diambil daripada al-Quran, hadis dan nas-nas syarak daripada ulama-ulama dan kitab-kitab muktabar jangan sesekali diubahkan.

Sumber:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10204548485177509&set=a.2941435100334.2117638.1394891848&type=1






Khamis, 28 Mei 2015

Biodata : Al-Alamah al-Habib Umar al-Hafiz dari Yaman, keturunan Rasulullah SAW yang ke-39.


Biodata : Al-Alamah al-Habib Umar al-Hafiz dari Yaman, keturunan Rasulullah SAW yang ke-39.
Al-Imam Al-’Arifbillah Al-Musnid Al-Hafidz Al-Mufassir Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz. Beliau adalah Al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafidz putera dari Abdallah putera dari Abi Bakr putera dari‘Aidrous putera dari Al-Hussain putera dari Al-Syaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abdallah putera dari ‘Abdarrahman putera dari ‘Abdallah putera dari Al-Syaikh ‘Abdarrahman Assaqof putera dari Muhammad Maula Al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari Al-Faqih Al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib Al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari Al-Imam Al-Muhajir Ilallah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali Al-‘Uraidi putera dari Ja’far Asshadiq putera dari Muhammad Al-Baqir putera dari ‘Ali Zainal ‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah Azzahra puteri dari Rasul Muhammad SAW.
Beliau lahir sebelum fajar hari Isnin 4 Muharram 1383H atau pada tanggal 27 Mei 1963M di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Syaikh Abu Bakr bin Salim. Ayahnya adalah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua kakek beliau, Al-Habib Salim bin Hafiz dan Al-Habib Hafiz bin Abdallah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi al-Habib ‘Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.
Beliau telah mampu menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadith, Bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin ‘Alawi bin Shihab dan Syaikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, Al-Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da’wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan dhikr.
Namun secara tragis, ketika Al-Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk sholat Jum‘ah, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahwa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang Da‘wah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya di masa kecil sebelum beliau mati syahid. Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, ia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk Majelis-majelis dan da’wah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al Qur’an dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.
Ia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota Al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.
Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di Al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang Mulia Al-Habib Muhammad bin ‘Abdullah Al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama madzhab Shafi‘i Al-Habib Zain bin Smith, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya ia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Ia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang Da‘wah.
Kali ini tempatnya adalah Al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul SAW pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing, usaha beliau yang demikian gigih mulai menunjukkan hasil yang besar, mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan sorban dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Rasul SAW.
Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah mengikuti beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan da‘wah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini beliau mulai mengunjungi kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta’iz di utara, beliaupun belajar ilmu dari mufti Ta‘iz Al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Syaikh Al-Habib Muhammad Al-Haddar, sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung.
Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul SAW di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari Al-Maghfurlah Al-Qutub Al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad Assaqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya SAWW dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai oleh Al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni Al-Habib Ahmed Mashur Al-Haddad dan Al-Habib ‘Attas Al-Habsyi.
Sejak itulah nama Al-Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikarenakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopuleran dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, beliau mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia dapat dipertahankan. Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah SWT dan Rasul SAW dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.
Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman. Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat Al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran di masa depan.
Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-Al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya para murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis. Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar bin Hafiz. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen Al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia.
Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim Yaman, dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.
Selamat Ulang Tahun Yaa Habibana..,
Sang Maha Guru tercinta..
Semoga ALLAH SWT senantiasa menambahkan kemuliaanNya bagimu..
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَآ رَ بَّ آلْعَآلَمِيّنْ
Sholawat dan Salam serta Keberkahan yang berkekalan sekekal ALLAH SWT pada yang mulia Rasulullah SAW, Keluarganya, Sahabat-sahabat nya dan semua Umat Islam dari yang awal hingga akhir Zaman.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ.
آمِيّنْ... آمِيّنْ... آمِيّنْ... يَآ رَ بَّ آلْعَآلَمِيّنْ